Minggu, 25 Januari 2015

Supplier Kopi Arabika Di Bali, 081284250656


Kami UD. Tobali Sejahtera adalah pendistribusi kopi organik asli dari varietas unggul dari Lintong di Bali. Kami saat ini bisa mensuplai kopi baik masih mentah (green bean) maupun yang sudah digongseng (roasted bean). Selain kopi unggulan dari Sumatra tersebut kami juga bisa mensuplai kopi Toraja berupa biji gongseng. Untuk pemesanan biji kopi gongseng adalah minimum 10 kilogram dan untuk green bean adalah minimum 50 kilogram. Silakan hubungi 081284250656 untuk informasi selengkapnya. Terima kasih (Rob).

Rabu, 19 November 2014

Kemenyan Sumatra di Bali

Penyimpanan dan pengeringan getah kemenyan
Kemenyan sejak dahulu kala sudah dipakai oleh manusia dalam hal pengawetan, sembahyang, aroma terapi dan lain-lain. Seiring perkembangan zaman maka pengolahan kemenyan untuk produk-produk kecantikan pun semakin banyak ditemukan. Saat ini kemenyan banyak dipakai sebagai unsur utama pembuatan parfum/kosmetik, media penyembuhan di spa-spa bahkan untuk pabrik rokok kemenyan dipakai untuk pengharum tembakau.

Kemenyan terbaik berasal dari Sumatra Utara yang tersebar di beberapa kabupaten seperti Humbang Hasundutan, Pakpak, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan. Untuk produk kemenyan dari Sumatra Utara kebanyakan dipakai untuk bahan pengharum tembakau dan untuk ini banyak dikirim ke Jawa Tengah. Dan untuk pasar internasional kebanyakan dikirim ke Singapura. Selanjutnya didistribusikan ke seluruh dunia oleh pengusaha-pengusaha Singapura dengan harga yang jauh lebih mahal. Sehingga manisnya kemenyan justeru lebih banyak dinikmati oleh pengusaha luar negeri.

Penyadapan getah di hutan
Untuk produk sembahyang banyak dipakai oleh masyarakat beretnis Tionghoa, Bali dan sebagian kecil dipakai oleh kalangan gereja Katolik maupun pelaku spiritual.

Untuk lebih menyebarkan produk kemenyan berkualitas tinggi,khususnya di Bali maka UD. Tobali Sejahtera berinisiatif menjadi penyalur kemenyan dalam bentuk masih mentah belum diolah menjadi dupa. Sekaligus menerapkan misi untuk membantu memasarkan produk petani dari sekitar daerah Tapanuli.

Untuk pemesanan produk ini bisa menghubungi nomor telepon 081284250656

Selasa, 07 Oktober 2014

Tobali Coffee, Kopi dari Toba di Bali


Kami dengan bangga mempersembahkan kopi yang asli dari Toba (Humbang Hasundutan) yang diperoleh dari petani kopi organik KSU POM Humbang yang beralamat di desa Nagasaribu Lintong Nihuta. Dengan niat membantu petani kopi yang masih hidup di bawah garis kemiskinan, maka kami dengan kemampuan yang kami miliki mencoba membantu pemasaran produk kopi mereka dengan harga yang sesuai dengan harga Fair Trade. 



Target utama dari pemasaran di Bali ini adalah para pemilik kafe dan individu expatriate yang sangat mendambakan produk kopi berkualitas. Oleh karena itu kami membuat brand tersendiri yakni Tobali Coffee yang mana nama tersebut adalah pengadopsian dua daerah yakni Toba sebagai sorga pertanian kopi organik dan Bali sebagai sorga destinasi wisata dunia.

Kami berharap dengan adanya sambutan pasar terhadap produk ini bisa membantu para petani kita yang berada nun jauh di bona pasogit (kampung halaman). Selain kopi organik arabika, kami juga menjual kopi luwak liar asli.

Sabtu, 06 September 2014

Bibit Singkong Gajah Sumatra

Saat ini kami sudah bisa menyediakan bibit singkong gajah hingga 5000 stek yang masing-masing stek berukuran 20 sentimeter. Namun untuk menjaga kesegaran bibit maka kami akan menyediakan bibit dalam ukuran 1 meter (dihitung 5 stek) dan untuk memudahkan pengiriman ke alamat tujuan. Alamat kami berada di Desa Pintupadang, Kecamatan Batang Angkola, Tapanuli Selatan, Kota Padangsidempuan.

Bagi yang ingin memesan bibit, silakan hubungi kami di email media.spot@yahoo.com atau bisa sms ke 081284250656. Harga yang kami kenakan saat ini adalah Rp. 1000/stek di luar onkos kirim. Ongkos kirim akan disesuaikan dengan tarif yang dikenakan oleh perusahaan pengangkutan.

Singkong Gajah Sumatra

Panen perdana seberat 27 kg tanpa perawatan memadai.
Singkong gajah adalah varietas unggulan ubi kayu yang aslinya berasal dari Kalimantan Timur. Adalah Prof Dr Ristono MS, peneliti dari Universitas Mulawarman (Unmul) menemukan tanaman ini pada 1992. “Sebetulnya tanaman ini sudah lama tumbuh di Kaltim. Saya menemukannya di beberapa tempat, seperti Manggar (Balikpapan) dan Marangkayu (Kukar). Tapi varietas singkong gajah ini hanya dijumpai di wilayah Kaltim,” tutur Ristono.Cara tanam singkong ini sangat mudah, dengan sistem stek bisa tumbuh. Batang singkong dipotong lalu ditancapkan dalam tanah yang gembur. Hasilnya pun berbeda dengan singkong biasa yang ditanam menggunakan proses okulasi atau dicangkok. “Dalam jangka sembilan bulan, kalau singkong biasa hasil panennya 2-3 kg dalam satu pokok, maka dengan singkong gajah bisa mencapai 10-20 kg,” jelasnya.Bersama BEC, Ristono ingin membudidayakan singkong gajah ini di Samarinda. Pilot project- nya di Barambai, Sempaja Utara dengan lahan seluas 2 hektare (ha). Minggu depan bakal dimulai penanaman bibit. Keunggulan tanaman ini bukan hanya perawatannya yang mudah, namun juga kebal terhadap hama.“Rasanya juga lebih gurih, seperti ada menteganya. Teksturnya juga sangat lunak tidak seperti singkong biasa yang keras,” tambahnya. Singkong ini tak hanya bisa diolah menjadi tepung tapioka tapi juga dapat menghasilkan produk bio-etanol sebagai bahan bakar kendaraan. Untuk menghasilkan bahan bakar, singkong ini mesti diolah melalui proses distilasi (penyulingan). Bertolak dari cerita kesuksesan bertanam singkong oleh petani di Samarinda, maka kami juga ingin membuktikan keberhasilan mereka di daerah kami di Sumatra Utara. Namun bibit yang kami dapat tidaklah langsung dari Kalimantan Timur berhubung biaya transportasi yang begitu mahal. Dan melalui pencarian di internet maka kami menemukan bibit singkong ini di Lampung Timur. 

Kisah Sedih Bertanam Singkong Gajah

Dengan kondisi cuaca yang tidak menentu kami terpaksa bertanam bibit yang sudah kami ambil dari Lampung Timur tersebut. Di bawah terik matahari kami menanam singkong ini dengan resiko bibit akan mengalami kekeringan. Namun banyak di antara bibit yang bisa bertahan hingga guyuran hujan membantu mereka bertumbuh. Tiga bulan pertama singkong kami bertumbuh dengan baik di atas lahan yang sudah bertahun-tahun tidak dikelola. Namun, di bulan ke empat malapetaka datang, banjir bandang menghantam lahan kami selama dua hari terbenam dan hari ketiga sudah mengering namun singkong sudah layu daunnya.Tidak ada pilihan lain sebagian singkong rontok daunnya namun setelah seminggu ada tunas-tunas baru muncul sehingga kami membiarkan saja demikian. Hingga di bulan Oktober 2013 kami mulai bisa memanen singkong kami. Meskipun banyak ubi yang membusuk namun ada sebagian yang masih bisa kami dapatkan hasilnya seperti gambar di atas. Dalam usia yang kurang lebih 7 bulan kami bisa mendapatkan ubi yang rata-rata berbobot 20 kilogram per batang.

Tidak Kapok

Belajar dari pengalaman yang menyedihkan malah membuat kami semakin penasaran untuk membuktikan manisnya bertanam singkong. Sebagian bibit kami bawa ke daerah Saribu Dolok di Simalungun. Dengan kondisi tanah yang subur dan bebas banjir maka kami optimis hasil yang didapatkan akan lebih bagus. Namun kami tidak menanam banyak karena lahan yang tersedia juga tidak luas namun untuk perbanyakan bibit kelak bisa untuk memenuhi kebutuhan kami. Semoga panen di penghujung tahun ini akan membawa rejeki buat kami.

Selasa, 01 Oktober 2013

Jumat, 30 Agustus 2013

Benteng Huraba

Benteng Huraba adalah sebuah benteng pertahanan di saat pasukan Brimob melakukan pertempuran melawan penjajahan Belanda. Benteng ini menjadi saksi dimana para pejuang dengan gigih melakukan pertempuran melawan tirani penjajahan. Benteng Huraba berlokasi di desa Pintupadang yang berbatasan dengan desa Huraba. Berada tidak jauh dari Mapolsek Batang Angkola di Pintupadang. Monumen benteng ini dibangun pada tahun 80-an disaat penulis masih duduk di bangku sekolah dasar di desa Pintupadang. Pada saat peresmian benteng ini, bertempat di lapangan sepak bola Pintupadang diadakan simulasi pertempuran yang menggambarkan situasi perang saat itu. Di benteng inilah telah gugur beberapa anggota Brimob dan pejuang-pejuang pada saat pertempuran terjadi. Nama-nama pejuang yang gugur itu diabadikan pada prasasti yang terdapat di tengah-tengah monumen yang menyerupai biduk kastel dalam permainan catur. Saat ini, Benteng ini menjadi arena favorit bagi masyarakat khususnya anak remaja berrekreasi. Di monumen ini terdapat juga dua buah meriam dan relief pertempuran. Belum lama ini, Benteng Huraba mendapat kunjungan napak tilas pasukan Brimob seperti yang diberitakan di salah satu surat kabar lokal Metro Siantar. TAPSEL – Estapet tim ‘Napak Tilas Sejarah Perjuangan Bhayangkara Polri dari Sabang sampai Merauke’ tiba di monumen perjuangan kemerdekaan Benteng Huraba, Kecamatan Batang Angkola, Kabupaten Tapanuli Selatan, Senin (26/8). Tim yang dipimpin Kepala Satuan (Kasat) Brimob Polda Sumatera Utara Kombes Pol Ahmad Subarkah SIk MH, sebelumnya berada di Kota Sibolga dan telah dilakukan serah terima estafet regu dari Brimobdasu Detasemen B kepada Detasemen C. Dalam perjalannya, regu napak tilas tersebut akan mengunjungi situs-situs sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa di Sumut dan seluruh nusantara. Dimana peserta napak tilas yang melakukan estapet tersebut memulai perjalanan dari Sabang (Nangroe Acah Darussalam) dan akan berakhir di Merauke (Papua). Kegiatan dilakukan untuk menumbuhkan semangat nasionalisme dan dimulai sejak 21 Agustus sampai 14 November 2013, bertepatan dengan HUT Brimob. Dalam menjalankan kegiatan, ada 619 regu peserta napak tilas di seluruh Indonesia dan akan menempuh jarak 8.174 kilometer. “Di Sumut, napak tilas berlangsung tiga hari. Diikuti 73 regu dengan rute sepanjang 753 kilometer, mulai batas Provinsi Aceh sampai batas Sumatera Barat. Selama perjalanan, kita mengunjungi makam Sisingamangaraja dan Benteng Huraba,” kata Kasat Brimobdasu. Dikatakan, dalam perjalanannya, regu napak tilas membawa duplikat Bendera Merah Putih, Panji Tribarata, Pataka Korps Brimob, Surat Pernyataan Polisi Istimewa, Surat Perintah Panglima Besar Jenderal Sudirman dan Pedang Polisi Istimewa. Lebih lanjut Kasat Brimob Poldasu ini mengatakan, Napak Tilas Sejarah Perjuangan Bhayangkara Polri ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara 1 Juli yang lalu, Proklamasi Kemerdekaan RI ke 68, dan Hari Jadi Korps Brimob Polri ke-68 pada 14 November mendatang. Dimana, tujuan pelaksanaannya adalah untuk menumbuhkan dan membangkitkan semangat juang, patriotisme dan soliditas insan Bhayangkara dalam menghadapi perkembangan dinamika masyarakat yang semakin kompleks. Pantauan METRO, sebelum upacara resmi di Benteng Huraba, rombongan terlebih dulu istirahat di Polsek Batang Angkola. Hadir dalam kegiatan itu Wakil Bupati Tapsel Aldinz Rapolo Siregar, Dandim 0212/TS Letkol Inf AT Chrishardjoko, Danyonif 123/RW Mayor Inf Uyat SIP, Kapolres Tapsel AKBP Abdul Rizal A Engahu, Wakapolres Padangsidimpuan Kompol D Panggabean, Ketua MUI Tapsel, Asisten I Pemko Psp, Kaden B Brimob Poldasu, Wakaden C Brimob, jajaran Polres Tapsel, Jajaran Polres Kota Psp, Detasemen C Brimob Poldasu, tokoh masyarakat Tapsel Sutor Siregar, camat Tantom Angkola dan lainnya. “Terimakasih karena menjadikan Tapanuli Selatan sebagai salah satu rute napak tilas ini. Semoga dalam mengisi kemerdekaan bangsa ini, semangat juang para pahlawan di Benteng Huraba dapat mengalir di darah kita semua,” ujar Wabup Tapsel. Sementara dalam upacara di Benteng Huraba, Kasat Brimobdasu Kombes Pol Ahmad Subarkah SIkMH, bertindak sebagai pimpinan upacara. Kapolres Tapsel didaulat membacakan Surat Pernyataan Polisi Istimewa dan Dandim 0212/TS membacakan Surat Perintah Panglima Besar Jenderal Sudirman. Selanjutnya Kasat Brimobdasu melepas regu Napak Tilas Sejarah Perjuangan Bhayangkara Polri di depan Benteng Huraba menuju Muara Sipongi, Mandailing Natal (Madina). Nantinya di perbatasan Provinsi Sumbar, akan dilakukan serah terima dengan regu napak tilas dari Sat Brimob Polda Sumut ke regu Sat Brimob Polda Sumbar. “Sejarah jangan sampai putus, tumbuhkan jiwa patriotisme, tumbuhkan solidiritas insan Bhayangkara, NKRI adalah harga mati!,” pesan Kombes Ahmad Subarkah kepada regu napak tilas sesaat dilepas. (ran)

Sabtu, 17 Agustus 2013

Batang Angkola: Upacara Perayaan HUT ke-68 Kemerdekaan RI

Sudah sekian tahun penulis tidak menikmati perayaan HUT Kemerdekaan RI di kampung halaman di Pintupadang, kecamatan Batang Angkola, Tapanuli Selatan. Dan kali ini penulis mendapatkan kesempatan setelah puluhan tahun dan pengalaman terindah merayakannya di saat penulis menjadi salah satu dari pasukan pengkibar bendera (Paskibra).


Hari ini, bertempat di lapangan sepak bola Pintupadang, Camat beserta unsur-unsur muspida setempat dan diikuti oleh ribuan anak sekolah dan masyarakat mengikuti acara pengkibaran bendera dalam rangka merayakan hari kemerdekaan. Upacara dilakukan dengan singkat dengan Camat kecamatan Batang Angkola, Bapak Hutasuhut bertindak sebagai inspektur upacara. Setelah selesai melakukan upacara, Bapak Camat beserta Kapolsek, Koramil, keluarga pahlawan, veteran perang serta unsur-unsur masyarakat melanjutkan acara tabur bunga di Taman Makam Pahlawan, Pintupadang.

Sebagai acara penutup adalah pawai dan deville yang diikuti oleh anak-anak TK, siswa dan siswi sekecamatan Batang Angkola.


Minggu, 05 Mei 2013

Wisata Spiritual Batu Cawan

Sumber: www.gobatak.com

Batu Cawan (batu sawan) yang terdapat disisi kaki pegunungan Pusuk Buhit di kecamatan Sianjur Mulamula adalah salah satu objek budaya Batak yang dianggap suci. Dianggap suci karena menurut sejarah, tempat inilah orang Batak percaya bahwa Raja Uti tinggal. Dimana diyakini bahwa dulunya raja-raja yang tinggal di daerah Pusuk Buhit menjadikan tempat pemandian yang suci.
Sekitar tahun 1996 tempat ini ditemukan oleh seorang bermarga Limbong lewat mimpi. Setelah ditelusuri ada suatu aliran air yang muncul dari permukaan tanah yang mengalir dari celah pebatuan melintasi tebing menjadikan air terjun kecil ke sebuah batu berbentuk seperti cawan besar. Yang pada ahkirnya kemudian tempat ini dipercaya tempat suci dan dikeramatkan digunakan tempat upacara ritual.
Ada keunikan dari tempat ini, dimana terbukti air yang mengalir sampai batu cawan (batu sawan) memiliki rasa. Tidak seperti air biasa, air di batu cawan (batu sawan) rasanya seperti air yang diberi perasan jeruk purut dan kecut-kecut serta segar alami. Batu Cawan (batu sawan) dipercaya airnya dapat menyembuhkan penyakit.
Orang Batak yang tinggal di daerah itu menyebutnya sebagai air berkah. Tempat ini menjadi salah satu tujuan orang Batak melaksanakan ritual. Yang jelas tempat ini mulai ramai dikunjungi sebagai tempat mengadakan acara ritual, baik yang berasal dari masyarakat sekitar, lokal bahkan dari luar negeri untuk berziarah.

Prosesi Ritual Batak Di Batu Cawan

Ada beberapa syarat jika anda ingin mengunjungi dan berziarah ke Batu Cawan (batu sawan). Daun sirih atau demban dan jeruk purut pilihan, selebihnya semua jalannya ritual akan dipandu juru kunci tempat tersebut oleh Ama Dapot Limbong. Lebih kurang 30 menit jarak yang ditempuh melalui jalan setapak yang sudah disemn rapi menujuk Batu Cawan (batu sawan). Tentunya persiapan yang lebih utama adalah kesiapan fisik karena rute yang akan dilalui menanjak. Serta kesiapan hati, tulus dan iklas.
ritual-doa-batu-cawanritual-doa-batu-cawan-2ritual-doa-batu-cawan-1 
Sesampainya di lokasi Batu Cawan (batu sawan), juru kunci dalam hal ini adalah A. Dapot Limbong akan menyiapkan segala sesuatunya, mulai mengenaikan pakaian hitam, memakai ulos dan mandar (sarung). Pengunjung yang akan mengikuti ritual tersebut terlebih dahulu memberikan persembahan (uang) dengan iklas juga tentunya, lalu masing-masing pengunjung akan diberi demban (daun sirih) untuk dipegang.
Juru kunci akan memulai ritualnya dengan memanjatkan doa serta menyampaikan niat-niat dan tujuan pengunjung dimana sudah diberitahukan kepada juru kunci sebelumnya. Dengan memangil Sumangot Ni Ompu Mula Jadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa) agar keinginan dan doa dipanjatkan di Pasu-pasu (direstui).
Lama ritual tergantung kepada keinginan-keingan dari pengunjung apa saja yang patut disampaikan. Dipenghuju ritual, juru kunci akan mengakhiri doanya serta menyarankan kepada pengunjung memanjatkan doa masing-masing (doa permintaan)/ tambahan), lalu meletakkan demban (daun siri) ke atas batu tempat persembahan didalam tandok kecil.
Air perasan jeruk purut yang dicampur dengan air yang berasal dari Batu Cawan (batu sawan) yang juga diletakkan bersamaan tandok persembahan tadi diminum secukupnya. Namun tidak menjadi keharusan untuk meminum air jeruk purut tersebut semua tergantung keinginan dan selera masing-masing. Barulah setelah ritual doa tersebut pengunjung disarankan “Marsuap” atau cuci muka di tepi Batu Cawan – tidak diperkenankan masuk kedalam Batu Cawan (batu sawan) untuk Marsuap atau mandi.

Jumat, 03 Mei 2013

Sungai Batang Angkola Meluap Rusak Tanaman Masyarakat

Sungai Batang Angkola yang terletak di Kabupaten Tapanuli Selatan kemarin tanggal 2 Mei 2013 meluap dan merendam ratusan hektar tanaman produktif masyarakat berupa tanaman padi, jagung, pisang, ubi kayu dan lain-lain.
Tepatnya di desa Parmonangan - Payasomanggal yang berbatasan dengan Kabupaten Madina, Sumatra Utara. Adapun luapan itu diakibatkan turunnya hujan deras sepanjang sore dan malam di daerah Padangsidempuan dan sekitarnya sehingga mengakibatkan sungai Batang Angkola tidak mampu lagi menampung limpahan air hujan tersebut. Sampai berita ini diturunkan, hujan masih terus turun di hari Jumat sore 3 Mei 2013 hingga malam hari. 

Proyek irigasi yang terlantar
Diakui masyarakat setempat bahwa daerah ini merupakan langganan banjir setiap tahun dan hingga saat ini masyarakat belum merasakan manfaat campur tangan pemerintah di dalam mengatasi masalah ini. Bahkan desa Morang yang dulunya didiami puluhan kepala keluarga sudah hilang dan tinggal sejarah karena ditinggal penduduk yang selalu menjadi korban banjir Batang Angkola.

Adapun proyek irigasi di daerah ini terlantar bertahun-tahun sehingga masyarakat tidak bisa memaksimalkan lahan pertanian dan perkebunan mereka.
Masyarakatpun sangat mendambakan sawah dan desa mereka bebas banjir sehingga desa mereka bebas dari kemiskinan yang mendera bertahun-tahun. Masyarakat setempat juga menambahkan bahwa pemerintah kurang memperhatikan mereka karena desa mereka terletak diperbatasan antara Tapanuli Selatan dan Madina. Desa tersebut berada di Kabupaten Tapanuli Selatan namun yang memiliki lahan banyak yang dari kabupaten Madina sehingga antara kedua pemerintahan daerah merasa enggan untuk membangun infrastruktur di desa tersebut seperti misalnya irigasi yang baik serta jalan yang tidak pernah diperbaiki.


Minggu, 11 November 2012

Promosi Destinasi Wisata Toba Kurang Dari $1,-


Sudah beberapa hari pikiranku selalu bekerja mencari tahu bagaimana mempromosikan daerah wisata nan indah ini dengan harga yang sangat murah dan langsung mengenai sasaran. Dan sejak seminggu lalu tiba-tiba muncul satu ide yang menurut saya cocok untuk dilaksanakan. Hal ini dilatar belakangi keprihatinan akan keadaan destinasi wisata ini yang semakin terpuruk. beberapa tahun lalu daerah ini adalah salah satu tujuan wisata favorit namun saat ini  sudah jarang terdengar gaungnya bahkan dalam review-review majalah pariwisata daerah ini sudah sangat jarang terdengar.  Dari sanalah keprihatinan berubah menjadi satu ide untuk memperkenalkan produk wisata ini. Saya berpikiran bahwa tidak ada gunanya lagi menunggu pihak berwenang untuk mempromosikan pariwisatanya. Tidak perlu lagi menyalahkan pihak-pihak yang punya kedudukan di birokrasi karena terkesan semua sudah memikirkan diri sendiri. Entah siapa lagi yang bisa diharapkan untuk mengelola daerah ini menjadi sesuatu komoditas ekonomi yang berkesinambungan. Dengan bermodalkan pengalaman dan kerinduan untuk mengembalikan nama baik kawasan ini ke dunia internasional maka saya ingin mengajak semua pecinta Danau Toba baik penduduk asli ataupun pihak yang memiliki hubungan emosionil dengan kawasan Toba untuk bersama-sama mempromosikannya dengan biaya yang relatif minim yakni kurang dari US$1.

Yah, dengan kurang dari satu dollar kita bisa mempromosikan daerah kita dengan cara mengantarkan daerah-daerah potensial ke para calon wisatawan kita, tunggu cerita selanjutnya...






Rabu, 11 Januari 2012

Samosir Art Festival, Pesta Danau Toba dan Proyek Impianku


Belakangan ini banyak sekali bermunculan ide-ide kreatif untuk menghidupkan kegiatan-kegiatan budaya di sekitaran Danau Toba. Ide-ide kreatifitas ini patutlah diacungi jempol dan didukung terlebih ide acara ini berasal dari para perantau putra putri yang berkampung halaman di sekitar Danau Toba. Daya, dana dan segenap upaya dicurahkan demi tercapainya cita-cita para perantau ini yang begitu perduli dengan keadaan kampung halamannya.

Beberapa saat yang lalu sekelompok seniman dan budayawan Batak perantau bekerja sama dengan tokoh masyarakat setempat  telah melaksanakan pegelaran budaya selama dua hari di pantai pasir putih Parbaba yang terletak di pulau Samosir yang menawan dengan sunset serta pemandangan langsung ke Aek Rangat, permandian air panas alami yang berasal dari gunung berapi Pusuk Buhit, satu-satunya gunung api yang masih aktif sisa letusan gunung maha dahsyat 74.000 tahun lalu. Pegelaran budaya bertitel Samosir Art Festival yang disingkat dengan SAFe menampilkan diskusi pelestarian budaya dari perspektif budayawan dan membangun pola pikir masyarakat ke arah yang lebih maju dalam menyikapi dinamika kemajuan zaman. Sebagai suku bangsa yang banyak melahirkan penyanyi-penyanyi kelas dunia maka beberapa penyanyi dan group band ditampilkan serta beberapa tarian tradisional suku Batak dipertunjukkan. Juga ditampilkan keterampilan membuat tembikar/keramik tradisi ‘martonun ulos’ atau bertenun kain tradisional Batak yang dikenal dengan nama ULOS atau bisa diterjemahkan bebas sebagai selimut.
Namun untuk event SAFe ini penulis belum menemukan ada tidaknya tujuan pelaksanaannya untuk memajukan pariwisata karena dari komunikasi yang sempat terjalin, ketua panitia acara Maria Tampubolon menyatakan tidak memiliki target apa-apa dalam acara ini sehingga penulis belum bisa memanfaatkan event ini sebagai alat ukur penghitung wisatawan yang datang ke Samosir.

Di lain tempat ternyata dilangsungkan juga Pesta Danau Toba (PDT) sebagai agenda tahunan dari pemerintah daerah Sumatera Utara dan didukung oleh pemerintah kabupaten dari tujuh kabupaten yang ada di sekeliling Danau Toba. Sebagian besar acara yang ditampilkan berkutat pada seni tari dan seni suara dan beberapa olah raga air. Namun sesuai dengan kritik banyak pihak dari pelaksanaan Pesta Danau Toba ini juga belum kelihatan hasil yang signifikan dalam menyumbang kunjungan wisatawan meskipun sudah merupakan agenda tahunan. Tidak terlihat hasil pelaksanaannya terlebih di dalam penambahan atau pembangunan infrastruktur yang menunjang pariwisata di daerah ini.

Masih banyak lagi ide-ide yang muncul yang diperoleh penulis dari jaringan sosial (social network) Facebook. Namun menurut hemat penulis, ide – ide tersebut pada dasarnya memiliki konsep yang sama tentang budaya. Belum terlihat konsep baru cara memperkenalkan Danau Toba ke pelosok dunia sehingga mampu menarik minat wisatawan berkunjung ke daerah tersebut. Karena tidak semua wisatawan mendatangi suatu tempat karena budayanya tetapi karena alamnya.

Semakin banyaknya event budaya yang bisa ditampilkan sebenarnya sungguhlah baik demi membangun citra pariwisata Danau Toba yang anjlok akhir-akhir ini. Namun diperlukan koordinasi dan tujuan yang jelas dan tidak sebatas pesta budaya untuk bersenang-senang. Untuk mengangkat citra pariwisata Danau Toba setidaknya diperlukan sinergi dari Pemerintah Daerah dan Pusat di dalam membangun infrastruktur penunjang pariwisata, mendidik masyarakatnya melalui penyuluhan-penyuluhan, pendidikan dan pelatihan. Mengelola, melestarikan dan mempromosikan Danau Toba sebagai kawasan wisata yang ramah lingkungan dan aman. Dan masyarakat setempat harus sadar betapa pentingnya melestarikan budaya dengan kreasi-kreasi baru sehingga semakin kaya dan variatif serta melestarikan keindahan dan kebersihan lingkungan Danau Toba dengan tidak membuang limbah industri dan rumah tangga secara langsung ke Danau Toba. Dan yang tidak kalah penting yang harus dibangun adalah etika masyarakatnya yang harus santun, ramah dan jujur sebagai modal utama sebagai insan pariwisata.

Saya, penulis juga sangat merindukan kemajuan pariwisata Danau Toba. Dari beberapa daerah yang pernah penulis kunjungi timbul rasa kecemburuan kenapa pariwisata daerah lain bisa maju dan dikenal dunia sementara pariwisata Danau Toba mundur dan jalan di tempat. Oleh karena itu belajar dari pengalaman dengan melihat kesuksesan daerah atau Negara lain maka saya sekarang sedang berusaha mengumpulkan data dan membangun sebuah konsep Proyek Impian untuk kampung halaman tercinta Samosir dan Danau Toba dengan memasukkan unsur keindahan alam dan budaya beserta sejarahnya dalam sebuah kemasan terpadu.

Mohon dukungan doanya agar konsep ini segera terwujud untuk ditawarkan kepada orang-orang terkait yang tertarik dengan kemasan wisata ini. Dan bila pembaca memiliki ide dan cerita tentang perkampungan yang layak untuk dimasukkan dalam kemasan wisatanya serta mendukung pembangunan wisata Danau Toba, silakan kirimkan email saudara ke media.spot@yahoo.com

Horas...horas...horas....
God bless Danau Toba

Sabtu, 24 Desember 2011


Horas Bali mengucapkan

Selamat Hari Natal 2011
 dan 
Tahun Baru 2012. 

Tuhan senantiasa memberkati kita.
Horas Bali-Horas Indonesia

Kamis, 22 Desember 2011

Gunung Toba, Gunung Api Raksasa


KOMPAS.com — Adalah Van Bemmelen, geolog Belanda, yang mungkin bisa ditunjuk sebagai bapaknya teori Toba sebagai kaldera gunung api. Tahun 1939 ia ditugaskan Pemerintah Belanda untuk meneliti Danau Toba dan akhirnya menemukan bukti bahwa danau indah itu merupakan kaldera gunung raksasa.

Temuan itu sempat menimbulkan kontroversi. Namun, di beberapa negara, seperti Malaysia dan India, kemudian ditemukan abu vulkanik yang diidentifikasi berasal dari letusan Toba. Teori Bemmelen lambat tapi pasti mulai diterima masyarakat hingga kini.

Van Bemmelen adalah pencetus teori bahwa kaldera Toba berasal dari satu letusan dahsyat. Teori ini didukung oleh Aldiss dan Ghazali. Namun, melalui penanggalan dengan metode radiometri, para peneliti setelahnya berhasil mengungkap bahwa letusan Toba berasal dari empat letusan besar. Beberapa peneliti itu, di antaranya, Vestappen (1961), Yokoyama dan Hehanusa (1981), Nishimura (1984), Knight (1986), dan Chesner dan Rose (1991).

Craig A Chesner, profesor geologi dari Eastern Illinois University, masih aktif meneliti Toba hingga saat ini. Thesis Chesner tentang Toba semakin memperjelas posisi Toba sebagai supervolcanoyang letusannya berdampak global.

Chesner-lah orang yang memberi jalan bagi lahirnya embrio teori Toba Catastrophe ketika ia mengirimkan sampel abu vulkanik Toba ke peneliti John Westgate (University of Toronto) tahun 1994. Westgate saat itu sedang berusaha mencari tahu asal abu vulkanik yang berusia 74.000 tahun lalu yang tersebar di berbagai belahan bumi.

Kiriman abu vulkanik Toba dari Chesner menjadi akhir dari pencarian Westgate. Tahun 1998, Stanley H Ambrose dari University of Illinois at Urbana-Champaign membangun teori baru Toba Catastrophe yang menawarkan analisis bahwa letusan dahsyat Toba telah membuat dunia mengalami penurunan suhu drastis dan membuat populasi manusia hampir punah.

Michael L Rampino (New York University), Stephen Self (University of Hawaii at Manoa), kemudian Greg Zielinski (University of Massachusetts) merupakan peneliti berpengaruh yang secara mendalam mempelajari material abu vulkanik Toba. Merekalah yang menyediakan data bagi lahirnya teori Toba Catastrophe yang diyakini membuat kemacetan populasi manusia.

Teori Toba Catastrophe semakin dipertajam oleh peneliti genetika asal Inggris yang ahli sintesis DNA, Stephen Oppenheimer. Terkait Toba, Oppenheimer yang didukung Bradshaw Foundation telah merilis migrasi manusia dengan judul Journey of Mankind. Tulisan yang disertai simulasi migrasi manusia itu memberi posisi penting letusan Toba yang dianggap melahirkan perubahan drastis genetika pada ras-ras Homo sapiens.

Meski demikian, Toba dan teori migrasi itu hanya berkumandang di debat-debat internasional di luar Indonesia. Hingga kini, Indonesia masih sepi dari minat terhadap Toba. (Ahmad Arif, Indira Permanasari, Amir Sodikin, M Hilmi Faiq)

Turiturian: Andorang so adong dope Komisi Pemberantasan Korupsi

Nigurathon ni : Laris Naibaho bin Amaronal alias Ompung ni si Malona.

Dung Tukang Insiniur si Billok, jala dapotan karejo na tama di sada perusahaan BUMN di Medan, sai disangahon ibana do mulak tu Huta nasida sahali sataon, laho mandulo inong dohot amongna. Songon nasomal do parmulakna, mandapothon Natal. Dohot do diboan anakkonna suang songoni pardibajabuna. 

Muba do tuit ni nanialapna i taon on, ai nunga naek jabatan si Billok, gabe Direktur Tehnik dan Rekayasa. Boi do attong dapot roha i, ai mangihut do fasilitas na tarlobi, songon mobil dohot jabu. Mitsubishi Pajero Sport warna putih Special Edition saonari dalan-dalan ni si Billok, jala ido diboan tu huta nami, ima ibukotani Kabupaten na mansai mashur di Portibion. Tong mai ala uli ni pulo dohot danau i.

Olo matutu, biasa ma, asa songon na sangap bapakkon ninna rohani si Billok, diajak ma amongnai raun-raun di huta, mangalaosi akka tikungan, dalan na marbuntak, suang songoni mangaloasi piga-piga jambatan.

Angka dalan dohot jambatan na adong di huta i, boi dohonon, amani Billok do mambangun. Ai annemer didikan ni Buladda najolo dope among nai.
Tep, di tongan dalan, jumpang na sida ma jambatan. Songon na ragu do si Billok naeng mangalaosi. Songon na mutung ma bohina, huhut marsamburetan hata sian papanganna patuduhon songon na kesal.

“Bapa, on majolo, laos soadong do hubereng mutu (kwalitas) ni bangunan borongan ni bapa on, na bohado?”

Sip do amani Billok mambege-bege ungut-ungut ni si Billok, alai anggo hosana dang be tikkos mardalan. Hosa-hosama.
Sai didatdati si Billok mandok hatana, “ Dang markualitas, satongkin-satongkin ruppak jala holan namangarehap torus…”

Dang tartaon amani Billok be mambege hata ni anak hasianna i. Haruar ma hata sian papanganna, “ Sipma babami Billok. Anggo dang hubaen songoni, sian dia do uang sikkola dohot uang kuliahmi? Paso mobil mi, asa turun au.”

Tarhatotong ma si Billok, dung soolo among nai rap be samobil, huhut manesali. Bah.Bah.Bah. Mar babahnama ibana.

Umpasa ni Si Raja Oloan

Inggo-inggo na songon imbalo
Imbalo na songon rondang
Horas jala gabe ma marga Naibaho
Suang songonima marga Sihotang


Eme na marbiur di lambung ni hariara
Eme si tamba tua rarak paheba-hebaSai torop maribur ma marga BakaraNa sangap martuama marga Sinambela


Tanggo ma pakko bahenon hite-hite
Mardakka dupang parlinggoman di alaman
Horas jala gabe ma marga Sihite
Torop maribur rap dohot marga Simanullang

Akal Bulus Nai Hemong

Akal Bulus ni nai HEMONG
(naginurathon ni : Laris Naibaho)
***

Sipata memang, dang ditanda nai Hemong on dirina. Pattang sobilak, teal na sun. Nunga diboto amantana holan PNS golongan II A do, alai so inama godang ni pangidoanna, manang lebih sossok dohonon, tuntutan.

Amani Hemong, biasa ma. Nunga tarleleng ibana penduduk DKI (Ditoru Ketiakni Inanta i). Sai dioloi do aha pangidoan ni niolina i. Ai molo so dileon pangidoanna, tor sai martepe-tepe do hata ni inantana i, huhut sai mandok, “Pulang kan saja, aku pada ibuku, atau ayahku.” Sabotulna, sai naeng do paulakonna inanta na i, alai mardua roha amani Hemong. Alana ende ni nai Hemong mandok, “Pulang kan saja aku pada ibuku atau ayahku.” Ai, panirang-nirangon do hape simatuana, gabe mardua jabu. Broken home istilah na. Gabe dipasombu jala diolo-oloi ma pangidoan ni inanta na i. Memang, dapot roha do alasan na deba nari. Soi nama ulini nai Hemong on. Sai ro do ijur ni akka ama-ama, apalagi amama na sotarpissang, molo mamereng body ni nai Hemong on. Ibarat mobil, BMW seri 5 terbaru ma.

Di sada tingki, mandapothon sore, tardipapodom-podom nai Hemongma di podoman nai. Ditempelhon muse salompas dibohina kiri-kanan dohot dipardompakonna.

Pas mulak sian kantor amani Hemong, dibereng ma tutu inanta nai namaheu bohina, huhut bersin-bersin. “Bah, Nai Hemong, ai na mahua ho?”

“Mahua dope nimmu, dang diberengho iba naung malos songon nanaeng mate?” ninna Nai Hemong mangalusi.

“ Naeng mate? Unang jo, unang mate joho, Alana dang tuntas dope pangkataionku dohot boru Sileban i. Jolo olo ma ibana, asa mate ho,” ninna amani Hemong, saotik margait. Maksudna asa mengkel nian nai Hemong.

“Aha nimmu? Tanda do sibolis di pingkiranmu. Iba naeng mate, hape songoni muse hatam? Paulak au…”

Amani Hemong pe tarotokan ma. Manesal ibana namargait i. Ai nunga gabe beringasan nai Hemong. Alai hatop dikuasai ibana pikkiranna.

“ Molo boti, beta ma tu dokter. Tu dokter Marulakloni mahita lao. Songon na jamot do jama-jamana. Beta ma!”

Tor ringgas do attong lakka ni nai Hemong. Di bagasan rohana, tombus do nanaeng paoto-otohon amani Hemong.

Masuk ma nai Hemong tu ruang periksa, nung jolo dijouhon suster Ngesot.
Diperiksa dr.Marulakloni ma attong dohot teteskop na. Bingung do dokter i. Songon na soadong do sahit ni nai Hemong.

Dung haruar nai Hemong sian ruang periksa, tor songon na marlojong do amani Hemong,. “Aha do ninna sahitmu, Hasian?”

“Dang adong ninna dokter i. Alai stress berat. Porlu ninna Isterahat total. Unang sai dijabu, jala ikhon pesiar , huhut belanja-belanja. Ido ninna ubatna.”

“Boha?”

“Molo boi nian, boan ma au mardalani tu Singapura, manang Hongkong manang tu Australia. Holan ido, didok dokter ubat ni sahit hon.”

“Daga, daga, daga. Na sala observasi do dokter i. Beta, tu datu na di dolok-dolok an ma hita lao, datung ala ni sahit mi gabe ikhon gabe korupsi au…Paliasssssssssssssssssssssssss!” 
***

Rabu, 30 November 2011

Rosa dan Pora-Pora Danau Toba

Catatan harian Laris Naibaho



Rosa. Rosa Rosdayanty lengkapnya. Datang dan berkunjung ke Barkah. Dia buat kejutan, dengan membawa oleh-oleh Zuppa soup. Tak tanggung-tanggung : 20 mangkok. Jdilah kami berpesata ria. Ini terjadi 28 November 2011. Dua hari yang lalu.
Makanan sebanyak itu tentu tak kusantap sendirian. Loper-loperku dohot Inang ni dakdanahi, ikut pulalah mengganyang. Ludes. Karena enak tentunya. Enakk!

Siapa Rosa? Dialah sahabatku, seorang wanita gigih dan tak kenal menyerah. Dia seorang EO, yang mengerjakan segala sesuatunya dengan penuh tanggungjawab. Dialah yang membuatku pe de, mengerjalan Loper's Day, sebanyak 3 kali. Dengannya aku merasa nyaman, karena sangat bertanggungjawab terhadap tugas yang dibebankan padanya.

Itulah Rosa, yang kreatif, bahkan mungkin sangat kreatif. Setelah membeli 10 kotak Pora-pora dagangan ku dan menghabiskannya, dia langsung menciptakan sambal yang cocok mendampingi pora-pora ku. Maka, kalau kelak ada iklan pora-pora termasuk sambalnya, permohonanku, jangan remove aku dari daftar pertemanan. Siapa pun kalian, termasuk yang tidak suka bahkan yang membenciku. Rosa mengatakan begini, " Aku bukan orang Batak, tapi kalau pora-pora ini kelak menjadi setara atau lebih seperti ikan bandeng dari Surabaya, bukankah akan menaikkan gengsi nelayan Danau Toba?" Aku terharu. Dan lalu kami bermaksud membuat pesta taman, yang lauk andalannya adalah Pora-pora. Semoga terwujud. Terima kasih Rosa. Terima kasih Partoba Pangaribuan, terima kasih juga Aline, Marnaek.

Senin, 28 November 2011

Kisah Terjadinya Pulau Malau

Diambil dari kumpulan artikel yahoogroups Batak-Gaul 

Nantinjo adalah putri bungsu dari Guru Tatea Bulan/Sibaso Bolon dari sepuluh bersaudara, anak yang pertama adalah Raja Uti, ke dua Saribu Raja, ke tiga Limbong Mulana, ke empat Sagala Raja, ke lima Lau Raja sedangkan perempuan yang pertama adalah Biding Laut, ke dua Boru Pareme, ke tiga Anting Haumasan, ke empat Sinta Haumasan dan ke lima Nantinjo. --cut--.
 
Semasa hidupnya, Nantinjo mengalami penderitaan yang cukup berat, sebab ketika lahir kedunia ini saja dia tidak sempuma, dikatakan wanita bukan, pria juga bukan. Pada saat umurnya sepuluh tahun kedua orang tua Nantinjo telah di panggil Yang Kuasa. Semenjak ditinggal kedua orang tuanya semakin beratlah penderitaan yang dialaminya. Nantinjo tinggal bersama abangnya Limbong Mulana, karena yang tinggal dikampung pada saat itu hanyalah ketiga abangnya Limbong Mulana, Sagala Raja serta Lau Raja, sedangkan abangnya Raja Gumeleng-Geleng telah pergi dibawa oleh Yang Kuasa kepuncak Gunung Pusuk Buhit. Abangnya yang nomor dua Saribu Raja telah pergi juga merantau entah kemana rimbanya, dikarenakan adanya skandal cinta dengan adiknya sendiri Boru Pareme.
 
Kemelut keluarga yang begitu hebat telah melanda keluarga Nantinjo sehingga abangnya yang nomor tigalah yang harus bertanggung jawab atas diri Natinjo sepeninggal kedua orang tuanya. Walaupun Nantinjo tinggal dirumah abangnya sendiri, penderitaan yang dialaminya sangat berat karena begitu besar tanggungjawab yang dibebankan abangnya terhadap dirinya mulai dari mengurus rumah, mengasuh anak-anak, serta mencari bahan makanan ke hutan. Dan yang membuat hati Nantinjo sangat menderita apabila Nantinjo salah sedikit saja pastilah dia mendapat hukuman dari abangnya. Siksaan demi siksaan diterima Natinjo hari lepas hari dari abangnya tersebut. Meskipun begitu berat penderitaannya Nantinjo pasrah, sebab tumpuan harapan pengaduannya telah pergi merantau entah kemana.
 
Nantinjo mempunyai keahlian bertenun, maklumlah pada saat itu dia harus bertenun jika ingin mempunyai pakaian. Setiap bertenun, Nantinjo selalu melantunkan syair lagu penderitaannya dengan berlinang air mata sambil memohon kepada yang Kuasa agar ditunjukkan jalan padanya untuk dapat keluar dari deritanya. Melihat dan mendengar penderitaan serta jeritan hati Nantinjo, Yang Kuasa akhirnya menunjukkan jalan keluar kepada Nantinjo. Pada suatu saat datanglah abangnya Lau Raja bertamu kerumah Limbong Mulana, melihat adiknya sedang menangis hatinya sedih, sebagai abangnya Lau Raja penasaran dan bertanya kepada sang adik, mengapa engkau menangis Nantinjo? namun pertanyaan abangnya itu bukan membuat Nantinjo diam malah membuat tangisan Nationjo semakin keras. Lau Raja pun mendekati adiknya, dipeluk dan dihibur adiknya dengan penuh kasih sayang sambil bertanya ada apa gerangan yang membuat hati adiknya begitu pilu dan sedih? Sadar bahwa abangnya begitu sayang kepadanya, Nantinjo akhirnya menceritakan segala 
penderitaannya dan menunjukkan luka dipunggungnya akibat siksaan yang kerap dilakukan abangnya Limbong Mulana kepadanya.
 
Tanpa sadar Lau Raja memanggil nama ibunya “Sibaso Bolon” sambil berujar “teganya kamu Ibu, membiarkan putri bungsumu mengalami penderitaan yang begitu berat dan tidak berkesudahan”. Sambil membelai adiknya, Lau Raja mengajak Natinjo pergi dari rumah Limbong Mulana dan ia berjanji akan menyayangi Natinjo. Mendengar ucapan dan janji abangnya, Nantinjo langsung mengikuti ajakan Lau Raja. Akhirnya Lau Raja membawa Nantinjo ke Simanindo Pulau Samosir tempatnya tinggal. Semenjak tinggal dengan Lau Raja. Nantinjo merasa senang, tenang dan bahagia. Nantinjo diberi kebebasan untuk melakukan kesenangannya bertenun walaupun abangnya miskin .
 
Hari lepas hari berganti, tak terasa Nantinjo sudah mulai berkembang menjadi gadis remaja yang anggun, cantik dan bersahaja. Kecantikan wajah dan sikap Nantinjo yang tidak pernah membedakan teman-temannya semakin menambah harum namanya terlebih dikalangan pemuda. Nantinjo menjadi gadis pujaan semua lelaki baik dikampungnya maupun dari kampung seberang danau toba. Seorang pemuda dari perkampungan (Huta) Silalahi sangat tertarik kepada Nantinjo dan ingin menjadikannya sebagai pendampingnya seumur hidup. Tanpa mengadakan pendekatan kepada Nantinjo, pemuda tersebut langsung meminta kedua orang tuanya untuk segera meminang Nantinjo. mendengar permintaan sang anak, orang tua pemuda tersebut sangat senang dan bangga ternyata putra mereka bemiat meminang bunga desa dari Simanindo.
 
Tanpa membuang banyak waktu, pihak keluarga tersebut akhirnya berangkat beserta rombongan ke rumah Lau Raja. Dengan maksud untuk meminang Nantinjo yang akan dijadikan istri dari putranya. Setelah mendengar dan mendapat pinangan tersebut, Lau Raja mengundang kedua abangnya Limbong Mulana dan Sagala Raja untuk mengadakan rapat keluarga, untuk menentukan apakah pinangan tersebut diterima atau tidak.

Ternyata, kedua abangnya mempunyai pendapat yang sama yaitu menerima pinangan tersebut. Namun Lau Raja berpendapat bahwa Nantinjo yang harus menentukan keputusan itu, diterima atau tidaknya lamaran tersebut. Kemudian mereka memanggil Nantinjo untuk hadir dalam rapat keluarga tersebut, dan mempertanyakan kepada Natinjo apakah ia bersedia menerima pinangan pihak laki-Iaki dari seberang danau toba itu? Sadar akan keberadaan dirinya yang laki-laki bukan perempuan juga bukan dengan spontan Nantinjo menjawab bahwa dirinya belum siap untuk berumah tangga. Dengan alas an Natinjo ingin menyelesaikan tenunannya terlebih dahulu agar dia bisa memakainya suatu saat nanti jika ia telah siap untuk berumah tangga.

Namun abangnya Limbong Mulana tidak memperdulikan jawaban Nantinjo dan tidak memberikan kesempatan kepada Nantinjo untuk menolak. Katanya “kamu harus menerima pinangan tersebut”. Mendengar paksaan dari abangnya itu tanpa sadar air mata Nantinjo menetes dipipi, dia berpikir tidak akan bisa melawan keinginan abangnya Limbong Mulana. Nantinjo melayangkan pandangan kepada abangnya Lau Raja dengan harapan dapat membela dirinya, namun Lau Raja pun tidak dapat membela adik yang sangat disayanginya itu karena dia sendiripun takut akan amarah abangnya Limbong Mulana. Melihat situasi seperti itu Nantinjo hanya dapat menangis dan menjerit meratapi nasibnya dalam hati.
 
Hanya Nantinjo sendiri yang tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Ketiga abangnya tidak mengetahui bahwa Nantinjo tidak sempurna dilahirkan kedunia ini sebagai seorang wanita. Nantinjo menolak karena dia menyadari bahwa dia tidak akan dapat membahagiakan calon suaminya dikemudian hari. Nantinjo berusaha berpikir keras, alasan apalagikah yang tepat untuk dapat menolak lamaran tersebut.
 
Nantinjo terus berfikir, berusaha mencari alasan untuk menolak lamaran tersebut. Akhirnya dia mendapat ide dan mengatakan kepada abangnya: “saya bersedia menerima pinangan dengan syarat pihak laki-laki itu harus dapat menyediakan emas satu perahu penuh serta uang ringgit satu perahu penuh” Mendengar persyaratan yang diberikan Nantinjo ternyata orang tua calon suaminya siap memenuhi permintaannya itu, bahkan calon mertuanya mengatakan lebih dari permintaanmu kami dapat kami penuhi.
 
Setelah kedua belah pihak sepakat, pihak lelaki kembali ke kampungnya diseberang Pulau Samosir. Keesokan harinya, pihak laki-laki itupun datang kembali beserta rombongan dengan membawa persyaratan yang diminta Nantinjo, yaitu emas satu perahu dan ringgit satu perahu.
Melihat emas satu perahu dan ringgit satu perahu keserakahan Limbong Mulana timbul, sikapnya langsung berubah lembut kepada Nantinjo. Dengan lembut Limbong Mulana mengatakan kepada adiknya “sekarang kamu tidak memiliki alasan lagi untuk menolak pinangan calon suamimu itu adikku, sebab calon mertuamu sudah memenuhi permintaanmu disaksikan ketiga abang¬abangmu serta khalayak ramai. Begitu tulusnya calon mertuamu menjadikan kamu sebagai menantu, dan sebagai abangmu yang tertua diantara kami, aku memutuskan bahwa kamu harus berangkat saat ini juga ikut dengan suamimu, Doa Restu dari kami abang-abangmu menyertai keberangkatanmu. Kami mendoakan kiranya Tuhan memberikan kebahagian lahir maupun batin kepada kamu” kata Limbong Maulana panjang lebar.
 
Dengan hati yang hancur Nantinjo menatap abangnya satu persatu sambil berkata kepada abangnya Lau Raja : “Jikalau memang saya harus berangkat untuk berumah tangga dengan calon suami saya yang bukan pilihan hati saya, tetapi dikarenakan godaan emas dan ringgit satu perahu, ternyata kalian tega memaksa saya untuk berumah tangga, bagiku tidak ada pilihan kecuali menerima namun permintaanku pada abang :” Kumpulkanlah semua apa yang menjadi milikku termasuk alat yang selalu kupakai untuk bertenun. Bambu turak ini tempat benang tenunku tolong tanamkan di ujung desa ini, suatu saat nanti semua keturunan Bapak dan Ibuku akan melihat dan mengingat saya yang penuh dengan penderitaan.”
 
Lau Raja memenuhi permintaan adiknya dan berjanji akan melaksanakannya. Nantinjopun akhirnya menaiki perahu kesayangannya dan berangkat meninggalkan kampung itu mengikuti rombongan calon suaminya. Sambil mendayung perahu hati Nantinjo terus gusar. Dia tidak dapat membayangkan apa yang bakal terjadi setelah sampai dikampung calon suaminya nanti. Kegundahan dan kekalutan pikiran Nantinjo tidak menemukan jawaban, kemudian Nantinjo memohon dan berseru kepada ibunya Sibaso Bolon, “Bu, mengapa ini harus terjadi, seandainya dahulu ibu cerita kepada semua  abangnya tentang keadaan Natinjo yang sebenarnya, mungkin ini tidak akan terjadi. lbulah yang bersalah serlo Limbong Mulana yang tergoda dengan emas dan ringgit satu perahu”. Dengan hati yang sangat pilu Nantinjo bertanya kepada Ibunya, “masihkah lbu sayang pada putrimu ini? kalau lbu benar-benar masih sayang dengarkanlah jeritan hati putrimu ini yang pal¬ing dalam. lbu! saya tidak mau berumah tangga sebab itu hanya akan membuat aib dikeluarga, Putrimu ini rela berkorban demi nama baik keturunan Bapak dan lbu di kemudian hari. Saya tahu ibu dapat berkomunikasi langsung dengan Yang Kuasa, Pintalah kepada Yang Kuasa agar saya lepas dari penderitaan ini dan persatukanlah saya dengan ibu”. Mendengar jeritan sang putri yang sangat memilukan hati, ibunya pun meminta kepada Yang Kuasa. Maka seketika itu juga turunlah hujan yang sangat lebat, angin dan badaipun datang menerjang perahu Nantinjo. Gemuruh ombak disertai halilintar turut menangis melihat penderitaan Nantinjo. Akhirnya perahu Nantinjopun tenggelam ditelan ombak danau toba. Nantinjo menemui ajalnya seketika itu juga. Ketiga abangnya yang menyaksikan hal itu merasa bersalah serta takut.
 
Bahkan setelah Limbong Mulana memeriksa emas dan ringgit satu perahu yang diberikan calon suami adiknya ternyata hanya diatasnya saja emas dan ringgit dibawahnya hanya gundukan pasir dan tanah. Penyesalan yang timbul selalu datang terlambat, apa mau dikata Nantinjo sudah tenggelam kedasar danau toba.
 

Keesokan harinya disaat orang masih tertidur pulas Lau Raja pergi kepantai tempat perahu Nantinjo diberangkatkan dengan harapan dapat menemukan adiknya hidup maupun mati. Ditelusurinya sepanjang pantai namun 
tidak ditemukan jasad adiknya. Sambil menangis tersedu-sedu Lau Raja meminta dalam hatinya kepada Yang Kuasa agar jasad adik yang disayanginya dapat ditemukan.
 
Sayup-sayup Lau Raja mendengar bisikan: “Adikmu Nantinjo sudah saya bawa ketempat yang aman, sekarang dia bersama ibumu. Anakku hapuslah air matamu, dan lihatlah ketempat dimana perahu adikmu tenggelam, disitu kau akan melihat satu keajaiban dunia, perahu adikmu akan muncul kembali berupa pulau. “ Inilah sebagai pertanda bagi keturunanku di kemudian hari betapa tulus dan mulia pengorbanan adikmu, tidak pernah mau membuat saudaranya malu dan terhina dihadapan orang “.
 
Tiba-tiba Lau Raja tersadar dan melihat dimana perahu adiknya tenggelam, dengan rasa kaget dia melihat apa yang dibisikkan oleh ibunya. Timbulnya pulau itu membuat Lau raja merasa adiknya Nantinjo serasa hidup kembali, dan dia berjanji pada diri sendiri bahwa ia beserta seluruh keturunannya harus menjaga dan merawat serta menyayangi pulau itu, sebagaimana dia menyayangi adiknya. Lau Raja memberi nama pulau itu “Pulau Malau”.

Yoga, Gerakan Propaganda Setan

Catatan:
Sebelum berita di bawah ini muncul, saya sudah mendapatkan informasi bahwa yoga itu memang pekerjaan iblis yang bersembunyi di balik penyembuhan, (Buku: Rahasia Kesembuhan Ilahi, Rev. Tony Daud)


TEMPO.CO, Vatikan - Pastor Gabriel Amorth telah melakukan lebih dari 70.000 eksorsisme (pengusiran setan) dalam kapasitasnya sebagai Kepala Exorcist di Vatikan. Pria berusia 85 tahun itu telah menjabat posisi itu selama 25 tahun sejak ditunjuk oleh mendiang Paus Yohanes Paulus II.

Pada konferensi hari ini, ia mengejutkan para delegasi dengan mengungkapkan beberapa kebenciannya, yaitu yoga dan Harry Potter.

Amorth, yang sering blak-blakan, mengatakan, "Mempraktekkan yoga membawa kejahatan seperti membaca Harry Potter. Mungkin kedua hal itu tampak tidak berbahaya, tapi keduanya berurusan dengan sihir dan mengarah pada kejahatan."

"Yoga adalah pekerjaan iblis. Anda pikir Anda melakukan hal itu untuk peregangan pikiran dan tubuh, tapi itu mengarah ke agama Hindu. Semua agama-agama oriental ini didasarkan pada keyakinan palsu reinkarnasi," ujarnya.

Amorth berbicara tentang subyek People and Religion di Umbria Film Festival di Terni. Ia mengungkapkan kebenciannya kepada penyihir muda karya J.K. Rowling itu.

"Orang-orang berpikir itu adalah sebuah buku yang aman bagi anak-anak, tapi itu tentang sihir dan mengarah pada kejahatan. Dalam Harry Potter, iblis sedang bekerja dalam cara yang cerdik dan licik, ia menggunakan kekuatan yang luar biasa dari sihir dan kejahatan."

"Setan selalu tersembunyi dan hal yang diinginkannya lebih dari apa pun adalah orang percaya bahwa dia tidak ada. Dia mempelajari setiap orang dan kecenderungan kita terhadap kebaikan dan kejahatan dan kemudian ia menggoda kita."

"Saran saya kepada orang-orang muda untuk mewaspadai klub malam karena jalurnya selalu sama: alkohol, seks, narkoba, dan sekte setan."

Ini bukan pertama kalinya Amorth mengungkapkan pandangannya yang menyisakan polemik itu. Tahun lalu, ia mengatakan bahwa skandal seks yang sedang menggoyang gereja Katolik adalah bukti bahwa 'iblis sedang bekerja di Vatikan."

Sementara di tahun 2006, Amorth, yang ditahbiskan menjadi pastor pada tahun 1954, memberikan wawancara kepada Radio Vatikan di mana dia mengatakan bahwa pimpinan Nazi, Adolf Hitler, dan diktator Rusia, Josef Stalin, dimiliki oleh Iblis.

Menurut dokumen rahasia Vatikan yang baru-baru ini dirilis, Paus Pius XII mencoba melakukan 'eksorsisme jarak jauh' terhadap Hitler, tetapi gagal.

Ini juga bukan pertama kalinya Amorth, yang merupakan Presiden Asosiasi Internasional Pengusir Setan, telah berbicara menentang Harry Potter.

Menanggapi pernyataan Amorth, Vanda Vanni dari Asosiasi Yoga Italia, mengatakan, "Sebuah praktek setan? Tuduhan Pastor Amorth adalah sepenuhnya tanpa dasar."

"Ini adalah hal yang keterlaluan untuk dikatakan--yoga bukanlah agama, melainkan disiplin spiritual. Ini adalah tentang kebebasan dan pencarian untuk menemukan bagian dalam seseorang. Ini tidak menyentuh agama dan tidak ada hubungannya dengan sekte-sekte setan, juga tidak mendorong orang untuk bergabung dengan mereka."

Giorgio Furlan, yang mengelola Akademi Yoga di Roma, mengatakan, "Ada beberapa jalan yoga yang mengarah kepada Hindu, tetapi jalur-jalur lain lebih filosofis, mereka tidak ada hubungan langsung dengan agama dan tentu saja tidak ada hubungan dengan setanisme.

"Mengatakan hal-hal tersebut menunjukkan Anda tidak tahu apa yang Anda bicarakan. Yoga mengontrol impuls kekerasan dari sistem saraf dan bawah sadar. Jujur, bagi saya ia memiliki pengaruh membawa saya lebih dekat ke agama Kristen dan khususnya gereja Katolik yang telah saya tinggalkan ketika masih muda."

DAILY MAIL | EZ