Minggu, 11 November 2012

Promosi Destinasi Wisata Toba Kurang Dari $1,-


Sudah beberapa hari pikiranku selalu bekerja mencari tahu bagaimana mempromosikan daerah wisata nan indah ini dengan harga yang sangat murah dan langsung mengenai sasaran. Dan sejak seminggu lalu tiba-tiba muncul satu ide yang menurut saya cocok untuk dilaksanakan. Hal ini dilatar belakangi keprihatinan akan keadaan destinasi wisata ini yang semakin terpuruk. beberapa tahun lalu daerah ini adalah salah satu tujuan wisata favorit namun saat ini  sudah jarang terdengar gaungnya bahkan dalam review-review majalah pariwisata daerah ini sudah sangat jarang terdengar.  Dari sanalah keprihatinan berubah menjadi satu ide untuk memperkenalkan produk wisata ini. Saya berpikiran bahwa tidak ada gunanya lagi menunggu pihak berwenang untuk mempromosikan pariwisatanya. Tidak perlu lagi menyalahkan pihak-pihak yang punya kedudukan di birokrasi karena terkesan semua sudah memikirkan diri sendiri. Entah siapa lagi yang bisa diharapkan untuk mengelola daerah ini menjadi sesuatu komoditas ekonomi yang berkesinambungan. Dengan bermodalkan pengalaman dan kerinduan untuk mengembalikan nama baik kawasan ini ke dunia internasional maka saya ingin mengajak semua pecinta Danau Toba baik penduduk asli ataupun pihak yang memiliki hubungan emosionil dengan kawasan Toba untuk bersama-sama mempromosikannya dengan biaya yang relatif minim yakni kurang dari US$1.

Yah, dengan kurang dari satu dollar kita bisa mempromosikan daerah kita dengan cara mengantarkan daerah-daerah potensial ke para calon wisatawan kita, tunggu cerita selanjutnya...






Rabu, 11 Januari 2012

Samosir Art Festival, Pesta Danau Toba dan Proyek Impianku


Belakangan ini banyak sekali bermunculan ide-ide kreatif untuk menghidupkan kegiatan-kegiatan budaya di sekitaran Danau Toba. Ide-ide kreatifitas ini patutlah diacungi jempol dan didukung terlebih ide acara ini berasal dari para perantau putra putri yang berkampung halaman di sekitar Danau Toba. Daya, dana dan segenap upaya dicurahkan demi tercapainya cita-cita para perantau ini yang begitu perduli dengan keadaan kampung halamannya.

Beberapa saat yang lalu sekelompok seniman dan budayawan Batak perantau bekerja sama dengan tokoh masyarakat setempat  telah melaksanakan pegelaran budaya selama dua hari di pantai pasir putih Parbaba yang terletak di pulau Samosir yang menawan dengan sunset serta pemandangan langsung ke Aek Rangat, permandian air panas alami yang berasal dari gunung berapi Pusuk Buhit, satu-satunya gunung api yang masih aktif sisa letusan gunung maha dahsyat 74.000 tahun lalu. Pegelaran budaya bertitel Samosir Art Festival yang disingkat dengan SAFe menampilkan diskusi pelestarian budaya dari perspektif budayawan dan membangun pola pikir masyarakat ke arah yang lebih maju dalam menyikapi dinamika kemajuan zaman. Sebagai suku bangsa yang banyak melahirkan penyanyi-penyanyi kelas dunia maka beberapa penyanyi dan group band ditampilkan serta beberapa tarian tradisional suku Batak dipertunjukkan. Juga ditampilkan keterampilan membuat tembikar/keramik tradisi ‘martonun ulos’ atau bertenun kain tradisional Batak yang dikenal dengan nama ULOS atau bisa diterjemahkan bebas sebagai selimut.
Namun untuk event SAFe ini penulis belum menemukan ada tidaknya tujuan pelaksanaannya untuk memajukan pariwisata karena dari komunikasi yang sempat terjalin, ketua panitia acara Maria Tampubolon menyatakan tidak memiliki target apa-apa dalam acara ini sehingga penulis belum bisa memanfaatkan event ini sebagai alat ukur penghitung wisatawan yang datang ke Samosir.

Di lain tempat ternyata dilangsungkan juga Pesta Danau Toba (PDT) sebagai agenda tahunan dari pemerintah daerah Sumatera Utara dan didukung oleh pemerintah kabupaten dari tujuh kabupaten yang ada di sekeliling Danau Toba. Sebagian besar acara yang ditampilkan berkutat pada seni tari dan seni suara dan beberapa olah raga air. Namun sesuai dengan kritik banyak pihak dari pelaksanaan Pesta Danau Toba ini juga belum kelihatan hasil yang signifikan dalam menyumbang kunjungan wisatawan meskipun sudah merupakan agenda tahunan. Tidak terlihat hasil pelaksanaannya terlebih di dalam penambahan atau pembangunan infrastruktur yang menunjang pariwisata di daerah ini.

Masih banyak lagi ide-ide yang muncul yang diperoleh penulis dari jaringan sosial (social network) Facebook. Namun menurut hemat penulis, ide – ide tersebut pada dasarnya memiliki konsep yang sama tentang budaya. Belum terlihat konsep baru cara memperkenalkan Danau Toba ke pelosok dunia sehingga mampu menarik minat wisatawan berkunjung ke daerah tersebut. Karena tidak semua wisatawan mendatangi suatu tempat karena budayanya tetapi karena alamnya.

Semakin banyaknya event budaya yang bisa ditampilkan sebenarnya sungguhlah baik demi membangun citra pariwisata Danau Toba yang anjlok akhir-akhir ini. Namun diperlukan koordinasi dan tujuan yang jelas dan tidak sebatas pesta budaya untuk bersenang-senang. Untuk mengangkat citra pariwisata Danau Toba setidaknya diperlukan sinergi dari Pemerintah Daerah dan Pusat di dalam membangun infrastruktur penunjang pariwisata, mendidik masyarakatnya melalui penyuluhan-penyuluhan, pendidikan dan pelatihan. Mengelola, melestarikan dan mempromosikan Danau Toba sebagai kawasan wisata yang ramah lingkungan dan aman. Dan masyarakat setempat harus sadar betapa pentingnya melestarikan budaya dengan kreasi-kreasi baru sehingga semakin kaya dan variatif serta melestarikan keindahan dan kebersihan lingkungan Danau Toba dengan tidak membuang limbah industri dan rumah tangga secara langsung ke Danau Toba. Dan yang tidak kalah penting yang harus dibangun adalah etika masyarakatnya yang harus santun, ramah dan jujur sebagai modal utama sebagai insan pariwisata.

Saya, penulis juga sangat merindukan kemajuan pariwisata Danau Toba. Dari beberapa daerah yang pernah penulis kunjungi timbul rasa kecemburuan kenapa pariwisata daerah lain bisa maju dan dikenal dunia sementara pariwisata Danau Toba mundur dan jalan di tempat. Oleh karena itu belajar dari pengalaman dengan melihat kesuksesan daerah atau Negara lain maka saya sekarang sedang berusaha mengumpulkan data dan membangun sebuah konsep Proyek Impian untuk kampung halaman tercinta Samosir dan Danau Toba dengan memasukkan unsur keindahan alam dan budaya beserta sejarahnya dalam sebuah kemasan terpadu.

Mohon dukungan doanya agar konsep ini segera terwujud untuk ditawarkan kepada orang-orang terkait yang tertarik dengan kemasan wisata ini. Dan bila pembaca memiliki ide dan cerita tentang perkampungan yang layak untuk dimasukkan dalam kemasan wisatanya serta mendukung pembangunan wisata Danau Toba, silakan kirimkan email saudara ke media.spot@yahoo.com

Horas...horas...horas....
God bless Danau Toba

Sabtu, 24 Desember 2011


Horas Bali mengucapkan

Selamat Hari Natal 2011
 dan 
Tahun Baru 2012. 

Tuhan senantiasa memberkati kita.
Horas Bali-Horas Indonesia

Kamis, 22 Desember 2011

Gunung Toba, Gunung Api Raksasa


KOMPAS.com — Adalah Van Bemmelen, geolog Belanda, yang mungkin bisa ditunjuk sebagai bapaknya teori Toba sebagai kaldera gunung api. Tahun 1939 ia ditugaskan Pemerintah Belanda untuk meneliti Danau Toba dan akhirnya menemukan bukti bahwa danau indah itu merupakan kaldera gunung raksasa.

Temuan itu sempat menimbulkan kontroversi. Namun, di beberapa negara, seperti Malaysia dan India, kemudian ditemukan abu vulkanik yang diidentifikasi berasal dari letusan Toba. Teori Bemmelen lambat tapi pasti mulai diterima masyarakat hingga kini.

Van Bemmelen adalah pencetus teori bahwa kaldera Toba berasal dari satu letusan dahsyat. Teori ini didukung oleh Aldiss dan Ghazali. Namun, melalui penanggalan dengan metode radiometri, para peneliti setelahnya berhasil mengungkap bahwa letusan Toba berasal dari empat letusan besar. Beberapa peneliti itu, di antaranya, Vestappen (1961), Yokoyama dan Hehanusa (1981), Nishimura (1984), Knight (1986), dan Chesner dan Rose (1991).

Craig A Chesner, profesor geologi dari Eastern Illinois University, masih aktif meneliti Toba hingga saat ini. Thesis Chesner tentang Toba semakin memperjelas posisi Toba sebagai supervolcanoyang letusannya berdampak global.

Chesner-lah orang yang memberi jalan bagi lahirnya embrio teori Toba Catastrophe ketika ia mengirimkan sampel abu vulkanik Toba ke peneliti John Westgate (University of Toronto) tahun 1994. Westgate saat itu sedang berusaha mencari tahu asal abu vulkanik yang berusia 74.000 tahun lalu yang tersebar di berbagai belahan bumi.

Kiriman abu vulkanik Toba dari Chesner menjadi akhir dari pencarian Westgate. Tahun 1998, Stanley H Ambrose dari University of Illinois at Urbana-Champaign membangun teori baru Toba Catastrophe yang menawarkan analisis bahwa letusan dahsyat Toba telah membuat dunia mengalami penurunan suhu drastis dan membuat populasi manusia hampir punah.

Michael L Rampino (New York University), Stephen Self (University of Hawaii at Manoa), kemudian Greg Zielinski (University of Massachusetts) merupakan peneliti berpengaruh yang secara mendalam mempelajari material abu vulkanik Toba. Merekalah yang menyediakan data bagi lahirnya teori Toba Catastrophe yang diyakini membuat kemacetan populasi manusia.

Teori Toba Catastrophe semakin dipertajam oleh peneliti genetika asal Inggris yang ahli sintesis DNA, Stephen Oppenheimer. Terkait Toba, Oppenheimer yang didukung Bradshaw Foundation telah merilis migrasi manusia dengan judul Journey of Mankind. Tulisan yang disertai simulasi migrasi manusia itu memberi posisi penting letusan Toba yang dianggap melahirkan perubahan drastis genetika pada ras-ras Homo sapiens.

Meski demikian, Toba dan teori migrasi itu hanya berkumandang di debat-debat internasional di luar Indonesia. Hingga kini, Indonesia masih sepi dari minat terhadap Toba. (Ahmad Arif, Indira Permanasari, Amir Sodikin, M Hilmi Faiq)

Turiturian: Andorang so adong dope Komisi Pemberantasan Korupsi

Nigurathon ni : Laris Naibaho bin Amaronal alias Ompung ni si Malona.

Dung Tukang Insiniur si Billok, jala dapotan karejo na tama di sada perusahaan BUMN di Medan, sai disangahon ibana do mulak tu Huta nasida sahali sataon, laho mandulo inong dohot amongna. Songon nasomal do parmulakna, mandapothon Natal. Dohot do diboan anakkonna suang songoni pardibajabuna. 

Muba do tuit ni nanialapna i taon on, ai nunga naek jabatan si Billok, gabe Direktur Tehnik dan Rekayasa. Boi do attong dapot roha i, ai mangihut do fasilitas na tarlobi, songon mobil dohot jabu. Mitsubishi Pajero Sport warna putih Special Edition saonari dalan-dalan ni si Billok, jala ido diboan tu huta nami, ima ibukotani Kabupaten na mansai mashur di Portibion. Tong mai ala uli ni pulo dohot danau i.

Olo matutu, biasa ma, asa songon na sangap bapakkon ninna rohani si Billok, diajak ma amongnai raun-raun di huta, mangalaosi akka tikungan, dalan na marbuntak, suang songoni mangaloasi piga-piga jambatan.

Angka dalan dohot jambatan na adong di huta i, boi dohonon, amani Billok do mambangun. Ai annemer didikan ni Buladda najolo dope among nai.
Tep, di tongan dalan, jumpang na sida ma jambatan. Songon na ragu do si Billok naeng mangalaosi. Songon na mutung ma bohina, huhut marsamburetan hata sian papanganna patuduhon songon na kesal.

“Bapa, on majolo, laos soadong do hubereng mutu (kwalitas) ni bangunan borongan ni bapa on, na bohado?”

Sip do amani Billok mambege-bege ungut-ungut ni si Billok, alai anggo hosana dang be tikkos mardalan. Hosa-hosama.
Sai didatdati si Billok mandok hatana, “ Dang markualitas, satongkin-satongkin ruppak jala holan namangarehap torus…”

Dang tartaon amani Billok be mambege hata ni anak hasianna i. Haruar ma hata sian papanganna, “ Sipma babami Billok. Anggo dang hubaen songoni, sian dia do uang sikkola dohot uang kuliahmi? Paso mobil mi, asa turun au.”

Tarhatotong ma si Billok, dung soolo among nai rap be samobil, huhut manesali. Bah.Bah.Bah. Mar babahnama ibana.

Umpasa ni Si Raja Oloan

Inggo-inggo na songon imbalo
Imbalo na songon rondang
Horas jala gabe ma marga Naibaho
Suang songonima marga Sihotang


Eme na marbiur di lambung ni hariara
Eme si tamba tua rarak paheba-hebaSai torop maribur ma marga BakaraNa sangap martuama marga Sinambela


Tanggo ma pakko bahenon hite-hite
Mardakka dupang parlinggoman di alaman
Horas jala gabe ma marga Sihite
Torop maribur rap dohot marga Simanullang

Akal Bulus Nai Hemong

Akal Bulus ni nai HEMONG
(naginurathon ni : Laris Naibaho)
***

Sipata memang, dang ditanda nai Hemong on dirina. Pattang sobilak, teal na sun. Nunga diboto amantana holan PNS golongan II A do, alai so inama godang ni pangidoanna, manang lebih sossok dohonon, tuntutan.

Amani Hemong, biasa ma. Nunga tarleleng ibana penduduk DKI (Ditoru Ketiakni Inanta i). Sai dioloi do aha pangidoan ni niolina i. Ai molo so dileon pangidoanna, tor sai martepe-tepe do hata ni inantana i, huhut sai mandok, “Pulang kan saja, aku pada ibuku, atau ayahku.” Sabotulna, sai naeng do paulakonna inanta na i, alai mardua roha amani Hemong. Alana ende ni nai Hemong mandok, “Pulang kan saja aku pada ibuku atau ayahku.” Ai, panirang-nirangon do hape simatuana, gabe mardua jabu. Broken home istilah na. Gabe dipasombu jala diolo-oloi ma pangidoan ni inanta na i. Memang, dapot roha do alasan na deba nari. Soi nama ulini nai Hemong on. Sai ro do ijur ni akka ama-ama, apalagi amama na sotarpissang, molo mamereng body ni nai Hemong on. Ibarat mobil, BMW seri 5 terbaru ma.

Di sada tingki, mandapothon sore, tardipapodom-podom nai Hemongma di podoman nai. Ditempelhon muse salompas dibohina kiri-kanan dohot dipardompakonna.

Pas mulak sian kantor amani Hemong, dibereng ma tutu inanta nai namaheu bohina, huhut bersin-bersin. “Bah, Nai Hemong, ai na mahua ho?”

“Mahua dope nimmu, dang diberengho iba naung malos songon nanaeng mate?” ninna Nai Hemong mangalusi.

“ Naeng mate? Unang jo, unang mate joho, Alana dang tuntas dope pangkataionku dohot boru Sileban i. Jolo olo ma ibana, asa mate ho,” ninna amani Hemong, saotik margait. Maksudna asa mengkel nian nai Hemong.

“Aha nimmu? Tanda do sibolis di pingkiranmu. Iba naeng mate, hape songoni muse hatam? Paulak au…”

Amani Hemong pe tarotokan ma. Manesal ibana namargait i. Ai nunga gabe beringasan nai Hemong. Alai hatop dikuasai ibana pikkiranna.

“ Molo boti, beta ma tu dokter. Tu dokter Marulakloni mahita lao. Songon na jamot do jama-jamana. Beta ma!”

Tor ringgas do attong lakka ni nai Hemong. Di bagasan rohana, tombus do nanaeng paoto-otohon amani Hemong.

Masuk ma nai Hemong tu ruang periksa, nung jolo dijouhon suster Ngesot.
Diperiksa dr.Marulakloni ma attong dohot teteskop na. Bingung do dokter i. Songon na soadong do sahit ni nai Hemong.

Dung haruar nai Hemong sian ruang periksa, tor songon na marlojong do amani Hemong,. “Aha do ninna sahitmu, Hasian?”

“Dang adong ninna dokter i. Alai stress berat. Porlu ninna Isterahat total. Unang sai dijabu, jala ikhon pesiar , huhut belanja-belanja. Ido ninna ubatna.”

“Boha?”

“Molo boi nian, boan ma au mardalani tu Singapura, manang Hongkong manang tu Australia. Holan ido, didok dokter ubat ni sahit hon.”

“Daga, daga, daga. Na sala observasi do dokter i. Beta, tu datu na di dolok-dolok an ma hita lao, datung ala ni sahit mi gabe ikhon gabe korupsi au…Paliasssssssssssssssssssssssss!” 
***