Sabtu, 06 September 2014

Singkong Gajah Sumatra

Panen perdana seberat 27 kg tanpa perawatan memadai.
Singkong gajah adalah varietas unggulan ubi kayu yang aslinya berasal dari Kalimantan Timur. Adalah Prof Dr Ristono MS, peneliti dari Universitas Mulawarman (Unmul) menemukan tanaman ini pada 1992. “Sebetulnya tanaman ini sudah lama tumbuh di Kaltim. Saya menemukannya di beberapa tempat, seperti Manggar (Balikpapan) dan Marangkayu (Kukar). Tapi varietas singkong gajah ini hanya dijumpai di wilayah Kaltim,” tutur Ristono.Cara tanam singkong ini sangat mudah, dengan sistem stek bisa tumbuh. Batang singkong dipotong lalu ditancapkan dalam tanah yang gembur. Hasilnya pun berbeda dengan singkong biasa yang ditanam menggunakan proses okulasi atau dicangkok. “Dalam jangka sembilan bulan, kalau singkong biasa hasil panennya 2-3 kg dalam satu pokok, maka dengan singkong gajah bisa mencapai 10-20 kg,” jelasnya.Bersama BEC, Ristono ingin membudidayakan singkong gajah ini di Samarinda. Pilot project- nya di Barambai, Sempaja Utara dengan lahan seluas 2 hektare (ha). Minggu depan bakal dimulai penanaman bibit. Keunggulan tanaman ini bukan hanya perawatannya yang mudah, namun juga kebal terhadap hama.“Rasanya juga lebih gurih, seperti ada menteganya. Teksturnya juga sangat lunak tidak seperti singkong biasa yang keras,” tambahnya. Singkong ini tak hanya bisa diolah menjadi tepung tapioka tapi juga dapat menghasilkan produk bio-etanol sebagai bahan bakar kendaraan. Untuk menghasilkan bahan bakar, singkong ini mesti diolah melalui proses distilasi (penyulingan). Bertolak dari cerita kesuksesan bertanam singkong oleh petani di Samarinda, maka kami juga ingin membuktikan keberhasilan mereka di daerah kami di Sumatra Utara. Namun bibit yang kami dapat tidaklah langsung dari Kalimantan Timur berhubung biaya transportasi yang begitu mahal. Dan melalui pencarian di internet maka kami menemukan bibit singkong ini di Lampung Timur. 

Kisah Sedih Bertanam Singkong Gajah

Dengan kondisi cuaca yang tidak menentu kami terpaksa bertanam bibit yang sudah kami ambil dari Lampung Timur tersebut. Di bawah terik matahari kami menanam singkong ini dengan resiko bibit akan mengalami kekeringan. Namun banyak di antara bibit yang bisa bertahan hingga guyuran hujan membantu mereka bertumbuh. Tiga bulan pertama singkong kami bertumbuh dengan baik di atas lahan yang sudah bertahun-tahun tidak dikelola. Namun, di bulan ke empat malapetaka datang, banjir bandang menghantam lahan kami selama dua hari terbenam dan hari ketiga sudah mengering namun singkong sudah layu daunnya.Tidak ada pilihan lain sebagian singkong rontok daunnya namun setelah seminggu ada tunas-tunas baru muncul sehingga kami membiarkan saja demikian. Hingga di bulan Oktober 2013 kami mulai bisa memanen singkong kami. Meskipun banyak ubi yang membusuk namun ada sebagian yang masih bisa kami dapatkan hasilnya seperti gambar di atas. Dalam usia yang kurang lebih 7 bulan kami bisa mendapatkan ubi yang rata-rata berbobot 20 kilogram per batang.

Tidak Kapok

Belajar dari pengalaman yang menyedihkan malah membuat kami semakin penasaran untuk membuktikan manisnya bertanam singkong. Sebagian bibit kami bawa ke daerah Saribu Dolok di Simalungun. Dengan kondisi tanah yang subur dan bebas banjir maka kami optimis hasil yang didapatkan akan lebih bagus. Namun kami tidak menanam banyak karena lahan yang tersedia juga tidak luas namun untuk perbanyakan bibit kelak bisa untuk memenuhi kebutuhan kami. Semoga panen di penghujung tahun ini akan membawa rejeki buat kami.

2 komentar:

Holman Sidabutar mengatakan...

Boi do manuhor bibit ni singkong gajah muna i ? Langsung pe di jemput to tempat muna , adong do abang ku par saribu dolok.marga girsang

Narwoto woto mengatakan...

Berapa bibit Sinkong gajah di lampung timur mana