Rabu, 11 Januari 2012

Samosir Art Festival, Pesta Danau Toba dan Proyek Impianku


Belakangan ini banyak sekali bermunculan ide-ide kreatif untuk menghidupkan kegiatan-kegiatan budaya di sekitaran Danau Toba. Ide-ide kreatifitas ini patutlah diacungi jempol dan didukung terlebih ide acara ini berasal dari para perantau putra putri yang berkampung halaman di sekitar Danau Toba. Daya, dana dan segenap upaya dicurahkan demi tercapainya cita-cita para perantau ini yang begitu perduli dengan keadaan kampung halamannya.

Beberapa saat yang lalu sekelompok seniman dan budayawan Batak perantau bekerja sama dengan tokoh masyarakat setempat  telah melaksanakan pegelaran budaya selama dua hari di pantai pasir putih Parbaba yang terletak di pulau Samosir yang menawan dengan sunset serta pemandangan langsung ke Aek Rangat, permandian air panas alami yang berasal dari gunung berapi Pusuk Buhit, satu-satunya gunung api yang masih aktif sisa letusan gunung maha dahsyat 74.000 tahun lalu. Pegelaran budaya bertitel Samosir Art Festival yang disingkat dengan SAFe menampilkan diskusi pelestarian budaya dari perspektif budayawan dan membangun pola pikir masyarakat ke arah yang lebih maju dalam menyikapi dinamika kemajuan zaman. Sebagai suku bangsa yang banyak melahirkan penyanyi-penyanyi kelas dunia maka beberapa penyanyi dan group band ditampilkan serta beberapa tarian tradisional suku Batak dipertunjukkan. Juga ditampilkan keterampilan membuat tembikar/keramik tradisi ‘martonun ulos’ atau bertenun kain tradisional Batak yang dikenal dengan nama ULOS atau bisa diterjemahkan bebas sebagai selimut.
Namun untuk event SAFe ini penulis belum menemukan ada tidaknya tujuan pelaksanaannya untuk memajukan pariwisata karena dari komunikasi yang sempat terjalin, ketua panitia acara Maria Tampubolon menyatakan tidak memiliki target apa-apa dalam acara ini sehingga penulis belum bisa memanfaatkan event ini sebagai alat ukur penghitung wisatawan yang datang ke Samosir.

Di lain tempat ternyata dilangsungkan juga Pesta Danau Toba (PDT) sebagai agenda tahunan dari pemerintah daerah Sumatera Utara dan didukung oleh pemerintah kabupaten dari tujuh kabupaten yang ada di sekeliling Danau Toba. Sebagian besar acara yang ditampilkan berkutat pada seni tari dan seni suara dan beberapa olah raga air. Namun sesuai dengan kritik banyak pihak dari pelaksanaan Pesta Danau Toba ini juga belum kelihatan hasil yang signifikan dalam menyumbang kunjungan wisatawan meskipun sudah merupakan agenda tahunan. Tidak terlihat hasil pelaksanaannya terlebih di dalam penambahan atau pembangunan infrastruktur yang menunjang pariwisata di daerah ini.

Masih banyak lagi ide-ide yang muncul yang diperoleh penulis dari jaringan sosial (social network) Facebook. Namun menurut hemat penulis, ide – ide tersebut pada dasarnya memiliki konsep yang sama tentang budaya. Belum terlihat konsep baru cara memperkenalkan Danau Toba ke pelosok dunia sehingga mampu menarik minat wisatawan berkunjung ke daerah tersebut. Karena tidak semua wisatawan mendatangi suatu tempat karena budayanya tetapi karena alamnya.

Semakin banyaknya event budaya yang bisa ditampilkan sebenarnya sungguhlah baik demi membangun citra pariwisata Danau Toba yang anjlok akhir-akhir ini. Namun diperlukan koordinasi dan tujuan yang jelas dan tidak sebatas pesta budaya untuk bersenang-senang. Untuk mengangkat citra pariwisata Danau Toba setidaknya diperlukan sinergi dari Pemerintah Daerah dan Pusat di dalam membangun infrastruktur penunjang pariwisata, mendidik masyarakatnya melalui penyuluhan-penyuluhan, pendidikan dan pelatihan. Mengelola, melestarikan dan mempromosikan Danau Toba sebagai kawasan wisata yang ramah lingkungan dan aman. Dan masyarakat setempat harus sadar betapa pentingnya melestarikan budaya dengan kreasi-kreasi baru sehingga semakin kaya dan variatif serta melestarikan keindahan dan kebersihan lingkungan Danau Toba dengan tidak membuang limbah industri dan rumah tangga secara langsung ke Danau Toba. Dan yang tidak kalah penting yang harus dibangun adalah etika masyarakatnya yang harus santun, ramah dan jujur sebagai modal utama sebagai insan pariwisata.

Saya, penulis juga sangat merindukan kemajuan pariwisata Danau Toba. Dari beberapa daerah yang pernah penulis kunjungi timbul rasa kecemburuan kenapa pariwisata daerah lain bisa maju dan dikenal dunia sementara pariwisata Danau Toba mundur dan jalan di tempat. Oleh karena itu belajar dari pengalaman dengan melihat kesuksesan daerah atau Negara lain maka saya sekarang sedang berusaha mengumpulkan data dan membangun sebuah konsep Proyek Impian untuk kampung halaman tercinta Samosir dan Danau Toba dengan memasukkan unsur keindahan alam dan budaya beserta sejarahnya dalam sebuah kemasan terpadu.

Mohon dukungan doanya agar konsep ini segera terwujud untuk ditawarkan kepada orang-orang terkait yang tertarik dengan kemasan wisata ini. Dan bila pembaca memiliki ide dan cerita tentang perkampungan yang layak untuk dimasukkan dalam kemasan wisatanya serta mendukung pembangunan wisata Danau Toba, silakan kirimkan email saudara ke media.spot@yahoo.com

Horas...horas...horas....
God bless Danau Toba

1 komentar:

ÁLVARO GÓMEZ CASTRO mengatakan...

Hi, Robert: I send you the new address of my blogs. I keep visiting your blog.

http://vniversitas.over-blog.es

http://carpe-diem-agc.blogspot.com/

http://alvaro-alvarogomezcastro.blogspot.com/

I hope your visit

Greetings from Santa Marta, Colombia